GUS YUSUF CHUDLORI, DARI PKB MENUJU KURSI KETUA UMUM PBNU?


GUS YUSUF CHUDLORI, DARI PKB MENUJU KURSI KETUA UMUM PBNU ?

Oleh : H. Adlan Daie
Analis politik, Sekretaris Umum MUI kab Indramayu.

Mundurnya KH Muhamad Yusuf Chudlori, sering disapa Gus Yusuf, baik dari posisinya sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah maupun sebagai salah satu Ketua DPP PKB dapat dibaca bagian desain strategi politik Ketua Umum PKB, Gus Muhaimin.

Inilah cara Gus Muhaimin, yang oleh (Alm) Prof. Syafie Ma’arif disebut “The Real Politician” – politisi NU “paling taktis”(“licin”?) dalam setiap pergantian rejim politik, ia sangat berkepentingan mendorong Gus Yusuf maju dalam kontestasi ketua umum PBNU dalam Muktamar NU ke 35 Juli 2026.

Tentu ini strategi Gus Muhaimin untuk menjaga relasi harmoni PKB dan NU dalam merawat “konstituensi” politik, semacam mitigasi untuk tidak mengulang kepemimpinan PBNU yang “antagonis” terhadap PKB sebagaimana tampak dalam kepemimpinan PBNU di era duet Gus Yahya dan Gus Ipul,

Pasalnya, PKB memang mustahil dipisahkan dari PBNU. PBNU bukan sekedar ‘ibu kandung”, inisiator berdirinya PKB tahun1998 , bahkan dari struktur organiknya, relasi ideologis dan aspiratifnya – PKB adalah pewaris tunggal sanad politik paling sah dari partai NU (tahun 1955 & 1971).

Gus Yusuf adalah satu dari sedikit tokoh muda NU yang “credensial”, yakni layak masuk dalam gelanggang kontestasi puncak kepemimpinan Nahdatul Ulama (NU), layak ditimbang sebagai salah satu kandidat ketua umum PBNU dalam Muktamar NU ke 35 tahun 2026 ini.

Gus Yusuf memiliki “sertifikat alamiyah”, ditakdirkan lahir dari epicentrum “trah” NU, putera dari KH Chudiori, kiai kharismatik, pengasuh Asrama Perguruan Islam (API), Pesantren Salaf Tegalrejo, Magelang yang didirikan tahun 1944 di mana KH Abdurrahman Wahid, Gus Dur, tokoh “historis” dan “Iconic” NU pernah “nyantri” di pesantren ini.

Gus Yusuf memiliki sanad keilmuan sangat kredibel dalam kultur dunia pesantren, alumni pesantren Lirboyo, sebuah pesantren yang disebut Gus Dur jangkar kultural NU paling tangguh di pulau Jawa. Pengalaman management organisasi sangat panjang seraya tekun mengasuh pesantren yang didirikan ayahandanya, Asrama Perguruan Islam (API).

Pembawaannya tidak meledak ledak, kalem, aktif dalam aktivitas dunia seni dan budaya dengan pergaulan lintas generasi dan lintas segmentasi sosial kompatibel dengan gestur NU sebagai ormas Islam yang sangat akomudatif dengan akulturasi budaya dan kearifan kearifan lokal bangsa Indonesia.

Pertanyaannya apakah variabel variabel “credensial” dan “kelebihan” Gus Yusuf di atas akan membuka jalan lapang bagi peluang keterpilihannya menjadi ketua umum PBNU dalam perhelatan Muktamar NU ke 35 nanti?

Cukupkah “endorsement” PKB membuka jalan lapang Gus Yusuf menuju kursi ketua umum PBNU dalam perhelatan muktamar NU ke 35 mendatang mengingat setiap periode kepemimpinan NU selalu menghadirkan “kekhasan” nya sendiri ?

Dulu Gusdur tahun 1984 terpilih untuk pertama kalinya sebagai ketua umum PBNU ditopang kombinasi kekuatan “trah” NU Gus Dur sebagai cucu langsung pendiri NU dengan kecanggihan, kepiawaian dan ketrampilannya memainkan aliansi politik taktis yang tidak sederhana di era rejim Orde baru dengan hegemoni narasi tunggal

Berikutnya KH. Hasyim Muzadi, KH.Said Aqil Siradj dan Gus Yahya terpilih menjadi ketua umum PBNU di era Orde reformasi. Bedanya KH Hasyim Muzadi terpilih karena kekuatan konsolidasi dan matang dalam organisasi sementara KH Said Aqil Sirodj lebih ditopang karena penguasaan ilmunya yang dibutuhkan dalam kepemimpinan NUq di eranya.

Dalam hal Gus Yahya terpilih, suka tidak suka, variabel faktor paling determinan adalah karena operasi politik istana (Jokowi) untuk proyeksi pilpres 2029. Karena itu, di era kepemimpinan Gus Yahya, NU “fully politics”, lebih dari partai politik dalam mengorkestrasi NU di ruang publik.

Itulah kekhasan jalan menjadi ketua umum PBNU di eranya masing masing, jelas berbeda tapi perbedaan yang menarik justru memperlihatkan kekuatan, karakter, gaya dan tipologinya serta konsekuensi dari dampak pilihan politiknya bagi NU.

Mari kita tunggu peta jalan mana yang hendak diorkestrasi Gus Yusuf menuju kursi ketua umum PBNU di Muktamar NU ke 35 bulan Juli 2026 ini.*

Wassalam
Indramayu, 7 Maret 2026
——-

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!