Oleh : H. Adlan Daie
Sekretaris Umum MUI kab Indramayu.
Gus Dur sulit diringkas dalam satu definisi tunggal. Beliau Ulama “par exelence”, politisi membasis bumi, pemikir dengan spektrum seluas cakrawala. Williem Liddle menyebut Gus Dur tokoh politik yang memahami detil peta faksi faksi ABRI (Kini TNI) dan kecenderungan politisnya, tentu tak ketinggalan pula gaya humoris sekaligus kontrovesialnya.
Penguasaannya terhadap literatur “kitab kuning” pesantren sama fasihnya dengan penguasaannya tentang buku “Des Capital” Karl Mark, Islam kirinya Pemikir Mesir, Dr. Hassan Hanafi, membongkar habis hasil penelitian Mitsuo Nakamura tentang NU dan Muhammadiyah, menguasai jenis jenis film dan aliran aliran sastra Rusia Josept Tolstoy, dkk.
Dan – inilah yang paling menarik, Gus Dur piawai dan canggih menyederhanakan masalah yang rumit hingga selorohnya sangat terkenal *”gitu aja kok repot””*. Teguh dalam prinsip tapi cepat dalam pilihan strategis, aliansi taktis dan meletakkan pilihan pragmatisme politik dalam skema memperjuangkan prinsip bernegara.
Momentum di penghujung Ramadlan 1447 H kali ini kita mencoba sedikit menyegarkan kembali mengais ngais hikmah dari illustrasi cara pandang dan pilihan taktis Gus Dur menguatkan relasi ukhuwah islamiyah dan meneguhkan ukhuwah Wathaniyah dalam spektrum wawasan berkeadilan yang substantif.
Tahun 1980 an, di bulan Ramadlan, Gus Dur mengundang ketua umum PP Muhammadiyah, AR Fakhrudin ke pesantren Tebuireng Jombang, pesantren yang didirikan kakeknya dari jalur Ayah, Hadratusyekh KH Hasyim Asyary, pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Begitu “entengnya” Gus Dur meminta A.R Fakhrudin untuk mengisi “kultum” sebelum shalat tarawih dan sekaligus menjadi imam shalat tarawih.
Kisah di atas sudah sering diceritakan dalam testimoni sejumlah tokoh baik NU maupun Muhammadiyah. Pointnya adalah tentang keberanian Gus Dur di satu sisi dan kearifan AR. Fakhrudin di sisi lain bahwa perbedaan begitu “pekat” di masanya antara kedua ormas Islam terbesar di indonesia tersebut tentang jumlah rakaat tarawih dapat “dilumerkan” dengan cara taktis dan sederhana.
Itulah Gus Dur, ia memahami perbedaan perbedaan “furuiyah” agama tidak ditarik tarik dalam perbedaan politik identitas ormas NU, Muhamdiyah atau ormas lainnya yang dapat membelah sekat sekat sosial secara ekstrim, bisa merusak kohesi ukhuwah islamiyah dan melemahkan integrasi keislaman dan kebangsaan.
Fenemoma penegasan corak keislaman “baru” di kalangan komunitas perkotaan dengan kegandrungan berbaju gamis, berjenggot, celana cingkrang, dll adalah pilihan “budaya” berislam bukan cara “paling islami”. Islam lebih dari sekedar cara dan model pakaian, jenggot dan aksesoris lahiriyah.
Jargon kembali ke “Al Qur an dan As Sunnah” dengan rujukan “teks” yang dilepaskan dari konteks sosial budaya arab di mana Nabi lahir dan bertumbuh dalam lingkungan tradisi budaya di dalamnya akan kehilangan spirit Islam sebagai agama “rahmatan Lil alamin”, Rahmat bagi semesta, justru menyempit dan gagal merespon dinamika masa depan jaman.
Gus Dur dalam seluruh dan totalitas pengembaraan intelektualitas dari beragam khazanah keilmuan lintas madhab dan lintas epistemologi ilmu dan budaya timur dan barat sampai pada kesimpulan untuk tidak cukup memahami ormas ormas Islam sebagai “firqoh”, kelompok atau golongan yang dihayati dengan ruang tendensi sempit.
Gus Dur sebagai tokoh dengan trah unggul ke NU an dari jalur Ayah sekaligus ibu menghayati NU tidak sekedar firqoh, kelompok atau ormas Islam dengan segala atribut atribut larihiyajnya melainkan lebih substantif dipahami sebagaiw *Manhaj Listislahil hadloroh”*, jalan peradaban untuk keadilan sosial.bagi masa depan Indonesia dan tatanan sosial dunia.
“Islam akan kehilangan mandat sebagai agama jika berhenti memperjuangkan prinsip keadilan dan kesetaraan dalam pergaulan sosial”, tulis Gus Dur.
Jalan peradaban itulah titik temu kehadiran ormas ormas islam di Indonesia dalam perspektif Gus dur tentang pilihan taktis, yakni menguatkan relasi ukhuwah islamiyah dan meneguhkan ukhuwah wathaniyah dalam spektrum wawasan berkeadilan yang substantif.
Itulah sedikit illustrasi cara kita mencoba mengais ngais hikmah cara pandang dan pilihan taktis Gus Dur dalam momentum penghujung ramadlan 1447 H. Kesanalah keislaman kita diarahkan dan digerakkan.
Wassalam
Indramayu, 13 Maret 2026
——–
![]()
